Sabtu, 17 Juni 2017

Pujian dan Kritikan

Pujian dan kritikan merupakan pasangan kata yang serasi.  Terkadang,  pujian juga bisa mengandung kritikan.  Begitu pula sebaliknya.

Jika berbicara dengan lawan yang sudah dewasa,  mungkin bisa saja dikaitkan antara keduanya.  Namun,  berbeda saat komunikasi dengan anak kecil,  terutama balita.  Semuanya harus jelas.

Untuk pujian,  hampir setiap hari saya melakukannya kepada anak,  karena punian merupakan apresiasi dari hal baik yang telah dilakukan sang anak.

Seperti halnya hari ini,  tanggal 16 Juni. Saya harus berangkat kerja lebih pagi dari biasanya, yaitu jam 08.00, sedangkan mas Fachri bangun kesiangan, jam 6.30.

Biasanya,  mas Fachri butuh waktu 30-60 menit untuk bermain baru mau mandi.  Tapi saat ini saya mengajak mas Fachri untuk langsung mandi.

Awalnya menolak,  tapi saat alhirnya mas Fachri mau langsung mandi,  sayapun memberi pujian ke mas Fachri, "mas Fachri sholih dan pinter.  Nanti habis mandi harum deh.  Terus bisa langsung main."

Dengan pujian yang sederhana itu,  tidak hanya kebahagiaan yang dirasakan oleh anak.  Tapi perilaku yang positif pun bisa tumbuh dari dalam jiwa anak. 

Observasi

Selasa,  14 Juni 2014 mas Fachri maen sepeda dengan Utinya di sekolah.  Selain main sepeda,  mas Fachri juga main selorotan.

Saat pulang dari main di sekolah,  saya sudah di rumah.  Mas Fachri minta diambilin minum dan minta susu kotak sambil teriak.

Selesai mengambilkan minum,  saya duduk di samping mas Fachri. "capek ya Nang?" tanyaku.
"Iya,  capek Ayi... " jawabnya polos.
"tapi kayake seneng ki mas Fachri. Naik sepedahe udah bisa mpe sekolahan.  Tadi Ayi naik sepeda terus Uti ngejar dibelakang gitu,  mas? Ato Ayi yang ngejar Uti?" tanyaku sedikit melakukan observasi.  Mas Fachri akan lebih mudah bercerita ketika pertanyaan yang diajukan lebih spesifik.

Mas Fachri pun menceritakan aktivitasnya sepagian,  hingga akhirnya tertidur pulas. 

Jumat, 16 Juni 2017

Refleksi Pengalaman

"Bunda,  mobil balap Ayi warna biru dimana?" tanya Ayi pada siang hari.
"Lha Ayi naruhnya dimana?" tanyaku balik pada mas Fachri.

"Gak tau." jawabnya.

"Tadi dipake main,  kan?  Yuk dicari dulu. " ajakku pada Mas Fachri.

"gak mau.  Cari bunda... "

"Tadi mainnya dimana?  Temenin Bun nyari,  yuk... "

Mas Fachri bergegas,  menggandeng tanganku ke tempat mas Fachri maen.
Kami mencarinya,  tapi tidak ada.

"dimana lagi mas? "

Kami mencarinya lagi,  tapi tidak ketemu.

Hingga seisi rumah sampai kolong-kolong kami mencari mobil kecil warna biru tidak juga ketemu.

"mas Fachri lupa naruh ya? Bunda juga pernah lupa naruh barang,  mas.  Terus ilang.  Besok,  kalo habis main langsung balikin tempate ya mas."

Mas Fachri mengangguk,  lalu memeluk dan bilang "Ayi sayang bunda."

Fokus Masa Depan

Bulan Juni,  jalanan lorong yang ada di desa mulai diaspal sehingga anak-anak banyak yang bermain sepeda.  Mas Fachri pun mulai menjajal kemampuannya untuk naik sepeda di jalan.  Awalnya,  mas Fachri main sepeda di rumah atau halaman rumah.  Dan itupun belum begitu bisa.

Saat pertama kali turun di jalan,  beberapa kali mas Fachri jatuh karena oleng atau hal lainnya.    Saya bantu mas Fachri bangun dan mendirikan sepedanya sambil mengecek kalau ada yang terluka. Alhamdulillah,  mas Fachri cuma sedikit lecet dan Alhamdulillah tidak menangis.

Saya kembali mendorong dan memberi semangat pada mas Fachri dan mengatakan "Mas Fachri ini lecet sedikit. Sakit?"

"gak sakit" kata mas Fachri.

"kalau begitu latihan lagi ya,  biar nanti naik sepedanya bisa bagus dan lancar. "

"ok"

Alhamdulillah, tanggal 10 Juni mas Fachri mulai bisa naik sepeda roda tiganya dengan baik.

Mengatakan Yang Diinginkan

Jumat,  9 Juni 2017. Ramadhan,  setiap selesai magrib, sekitar mushola dan rumah selalu diramaikan oleh anak-anak.  Mereka saling berlarian dan membunyikan petasan abal-abal.

Mas Fachri pun tertarik dan mulai ikut-ikutan. Saya,  jelas khawatir dengan hal ini.  Saya menyatakan keberatan saya jika habis magrib mas Fachri bermain diluar.  Mas Fachri masih mencari alasan,  "mau ke rumah mbak Esti atau teman yang lain."

Jika hal ini dibiarkan,  saya hawatir jika menjadi kebiasaan. Maka saya mencari jalan tengah dan bilang ke mas Fachri " Mas,  bunda pingin mas Fachri habis magrib bermain di rumah."

Awalnya sulit,  tapi seiring berjalannya waktu, akhir-akhir ini mas Fachri mau bermain di rumah atau depan rumah untuk melihat petasan.  Bahkan,  mas Fachri mulai mengajak beberapa temannya (teman-temannya adalah anak-anak SD) untuk maen ke rumah. 

Yakin Bisa

Rabu,  7 Juni Mas Fachri,  usianya 3 tahun.  Sudah mulai bisa melepas baju sendiri,  meski masih sering dilepaskan bunda saat mau mandi atau ganti baju.

Beberapa hari ini,  kami meminta mas Fachri untuk melepas baju sendiri kecuali kaos berlengan dan kemeja berkancing.  Awalnya mas Fachri tidak mau dan bilang "Ayi gak bisa."

Tapi,  kami selalu mengajaknya mencoba dan mengatakan dengan kalimat yang mensugesti bahwa "mas Fachri bisa,"
Alhamdulillah,  mulai sekarang m

Pilihan dan Keputusan

Senin,  5 Juni 2017 Saya, Uti,  dan mas Fachri pergi ke sebuah toko sandal.  Saat itu kami mau mencari sandal untuk Uti.  Sepanjang perjalanan,  mas Fachri menyatakan keinginannya untuk dibelikan sandal juga. Dan kami mengiyakan.

Sesampai di toko,  yang terpampang tidak hanya sandal,  melainkan ada mainan mobil-mobilan.  Mas Fachri pun beralih dan minta dibelikan mobil-mobilan Ambulan kecil. Kata mas Fachri "di rumah belum ada mobil ambulan."

"Sandal saja,  mas" bujukku.  Uti pun ikut membujuk agar beli sandal saja.  Tapi,  mobil ambulan sudah dikekep dan tidak dilepaskan.

Oke,  sayapun tak mau memaksa.  Akhirnya saya beri pilihan dan melakukan negosiasi dengan mas Fachri "mas Fachri milih salah satu ya,  mau sendal atau mobil?"

"Ayi mau mobil."

"kalau mobil,  berarti mas Fachri gak tumbas sandal ya."

"Iya.  Ayi mobil aja... "

Dan,  kami pun sepakat dan pulang dengan perasaan senang. 

Kamis, 15 Juni 2017

Adek Jalan Pagi Sama Uti

Hari Sabtu,  3 Juni 2017 Ayah pulang dari Bali.  Ayah bertugas satu hari,  dan usai tugas ayah langsung pulang.  Maka,  sabtu pagi Ayah sudah sampai rumah.  Dan saya harus menjemput di tempat Ayah diturunkan Bis.

Saat itu habis subuh, ayah mengabari bahwa sudah sampai lokasi.  Dan meminta dijemput jam 5an agar sudah terang.
Dan akupun mengiyakan.

Saat mau berangkat,  sekitar jam 5.10 ternyata mas Fachri bangun. Aku membangunkan dulu mas Fachri lalu kuajak mas Fachri keluar.

"Bunda mau kemana?" tanya mas Fachri saat melihatku sudah berpakaian rapi dan memakai jaket.

"Bunda mau jemput Ayah.  Sekarang Ayah sudah menunggu di Juwana." jawabku sambil tersenyum.

"Ayah sudah pulang?"

"yups betul.  Ayi di rumah sama mbah ya. "

"Ayi ikut." Mas Fachri mulai merengek.

"Kalau sama Ayi,  Bun gak berani.  Masih gelap.  Ayi dirumah,  jalan-jalan sama Uti. Kasian Ayah nunggu lama. " Aku membujuk mas Fachri dengan lembut.

Mas Fachri mau,  lalu turun dari pangkuan dan mengajak Utinya jalan pagi.  Diambil sepatu merahnya yang berlampu dengan bahagia.

Lalu sayapun segera meluncur untuk menjemput Ayah. 

Sayang dan Ramah

Hari ini,  kamis,  tanggal 1 Juni 2017. Ayah pulang dari tugas di Bali.  Kali ini ayah ke Bali dengan naik Bus.  Jadi,  saya harus mengantar sampai Juwana tempat bus menunggu.

Jadwal pemberangkatan bus dari Juana pukul 16.00. Jadi diperkirakan jam setengah empat harus berangkat dari rumah.

Karena ini bulan puasa,  maka saya menyiapkan bekal untuk ayah berbuka.  Saat ini mas Fachri,  anak kami yang berusia tiga tahun sedang tidur siang.  Jadi,  saya bisa beraktivitas dengan tenang.

Jam 14.30, saat saya sedang menyiapkan bekal,  ayah dapat telpon dari pihak bus bahwa kemungkinan bus mundur sampai jam 17.00. Mendengan kabar itu,  saya agak santai dalam menyiapkan bekal.  Bahkan saya berencana untuk membeli jajan untuk Ayah.

Saat saya menstater motor sekitar jam 14.50, ayah kembali mendapat telpon dari pihak bus bahwa ternyata jalanan kembali lancar dan kemungkinan sampai di Juwana jam 15.30. Saya kaget.  Maka,  saya tak jadi pergi ke warung.  Lalu segera saya kemas bekal yang sudah ada.

Di saat itu pula mas Fachri bangun dan minta ditemeni bunda.  Sementara ayah siap-siap saya menemani mas Fachri.

Nada telpon ibu mulai berdering. Ada kabar bahwa mertua dari pak dhe saya meninggal dunia.
Innalillahi wainna ilaihi rojiun.

Dan,  saat sepeeti ini membuat semua panik.  Ditambah hujan mulai turun. 

Jam 15.10 ayah sudah siap.  Sementara mas Fachri masih belum mau ditinggal.  Jadi,  saya minta tolong Ayah untuk membawa keluar semua bekal yang sudah saya siapkan.

Maka,  kami putuskan menunggu hujan reda.  Sedangkan bapak dan ibuk ta'ziah nanti sepulang saya mengantar Ayah agar bisa menjaga mas Fachri terlebih dahulu. Saya tidak mengajak mas Fachri untuk mengantar ayah karena selain jarak yang lumayan jauh juga karena cuaca yang tidak mendukung.

Lalu saya memeluk mas Fachri dan bilang "Bunda nganter Ayah dulu sampai Juwana.  Mas Fachri di rumah sama Uti dan Akung."

Ayah pun melakukan hal yang sama untuk pamit berangkat kerja ke mas Fachri.

Beberapa menit kami membujuknya dengan penuh sayang dan intonasi suara yang ramah.

Alhamdulillah,  mas Fachri pun mengijinkan. 

Rabu, 07 Juni 2017

Belajar Mengelola Emosi

Hari ini (29 April 2017)  adalah hari ketiga aku menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan.  Seperti biasa,  akhir bulan adalah saatnya membuat laporan bulanan kegiatan Program Keluarga Harapan dan dikumpulkan tanggal 30.  Pukul 14.00, usai tadarusan di mushola,  aku berencana mengerjakan laporan bulanan.  "mumpung mas Fachri sedang tidur" pikirku.

Memang,  memiliki anak kecil harus bisa mencari celah untuk mengerjakan tugas agar bisa tenang. Dan salah satu waktu yang tepat adalah ketika si kecil tidur. Dan siang ini adalah waktu yang tepat, menurutku.

Dengan semangat kusiapkan semua berkas yang kubutuhkan, mulai dari catatan kegiatan,  foto dokumentasi,  dan lain sebagainya.

Saat semua sudah siap,  laptop sudah menyala tiba-tiba mas Fachri bangun dan langsung mendekati aku yang sedang sibuk berkutat di depan laptop.

Mas Fachri ternyata masih ngantuk dan minta ditemani bubuk lagi.  Pikiranku yang sudah masuk dengan pekerjaan dan deadline tidak begitu menghiraukan ajakan dan rengekan mas Fachri.

"Sebentar,  mas.  Mas Fachri duduk sini dulu yuk." ajakku dengan sedikit memegang kembali tangannya yang menggeret tanganku.

"gak mau...  Ayi mau bubuk sama Bunda." mas Fachri bersikeras.

"ayo bun.... " kali ini disertai rengekan. Lalu tiba-tiba mas Fachri mendekat dan menutup laptop yang menyala.

Aku geram.  Tapi, Alhamdulillah aku teringat bahwa bulan ini adalah bulan ramadhan dan aku sedang mengikuti tantangan mengelola emosi kelas Bunda Sayang. Jadi,  aku mencoba meredam emosi yang bergejolak.

Baiklah,  jika saya tetap bersikukuh untuk duduk di depan laptop pun tidak ada hasil.  Maka,  akupun mendudukkan mas Fachri yang berusia 35 bulan di pangkuanku.

"Mas Fachri pingin bubuk ditemani Bunda? " tanyaku.

"iya. Ayo Bun... "

"Boleh.  Tapi sebentar ya,10 menit.  Ok? "

"ok. " jawab mas Fachri.

Kamipun berjalan bergandeng ke depan tivi untuk tiduran.  Dan di sinilah aku mendapatkan kebahagian yang luar biasa baik dalam diri sendiri atau dari mas Fachri.

Di depan tivi kami bermain dan bercerita. Tidak lama setelah itu mas Fachri mengijinkan aku untuk mengerjakan tugas atau melakukan aktivitas lainnya. Sedang mas Fachri melanjutkan main mobil di sampingku yang sedang membuat laporan.




Kuserahkan Rumah ini Untuk Kakak

Ini adalah cerita perdana tentang Fachri di https://bundafachri.blogspot.com/ di tahun 2021 setelah sekian lama bunda nggak menulis.Terakhir...