Jumat, 9 Juni 2017. Ramadhan, setiap selesai magrib, sekitar mushola dan rumah selalu diramaikan oleh anak-anak. Mereka saling berlarian dan membunyikan petasan abal-abal.
Mas Fachri pun tertarik dan mulai ikut-ikutan. Saya, jelas khawatir dengan hal ini. Saya menyatakan keberatan saya jika habis magrib mas Fachri bermain diluar. Mas Fachri masih mencari alasan, "mau ke rumah mbak Esti atau teman yang lain."
Jika hal ini dibiarkan, saya hawatir jika menjadi kebiasaan. Maka saya mencari jalan tengah dan bilang ke mas Fachri " Mas, bunda pingin mas Fachri habis magrib bermain di rumah."
Awalnya sulit, tapi seiring berjalannya waktu, akhir-akhir ini mas Fachri mau bermain di rumah atau depan rumah untuk melihat petasan. Bahkan, mas Fachri mulai mengajak beberapa temannya (teman-temannya adalah anak-anak SD) untuk maen ke rumah.
Mas Fachri pun tertarik dan mulai ikut-ikutan. Saya, jelas khawatir dengan hal ini. Saya menyatakan keberatan saya jika habis magrib mas Fachri bermain diluar. Mas Fachri masih mencari alasan, "mau ke rumah mbak Esti atau teman yang lain."
Jika hal ini dibiarkan, saya hawatir jika menjadi kebiasaan. Maka saya mencari jalan tengah dan bilang ke mas Fachri " Mas, bunda pingin mas Fachri habis magrib bermain di rumah."
Awalnya sulit, tapi seiring berjalannya waktu, akhir-akhir ini mas Fachri mau bermain di rumah atau depan rumah untuk melihat petasan. Bahkan, mas Fachri mulai mengajak beberapa temannya (teman-temannya adalah anak-anak SD) untuk maen ke rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar